Rabu, 09 Februari 2011

Think Green ?? Come On !!


Think Green? Kira-kira apa yang kalian pikirkan? Pasti akan ada banyak pikiran-pikiran tentang itu. Menurut gw, untuk membantu menyelamatkan bumi, kita harus bersikap Think Green. Hmmm.. Lalu apa sih Think Green itu?

OK. Sebelum gw lanjutin tentang Think Green, gw ada tiga cerita yang semoga setelah kalian membaca cerita ini, kita dapat menyamakan persepsi kita. Karena untuk menjaga bumi, melestarikan bumi, konservasi, dan semua yang berhungan itu kita harus berjalan bersama, bekerja bersama, satu misi dan satu tujuan. Tentunya saja untuk bumi kita ini.

- tanya IP : bisa buat ngitung luas lingkaran -

Ini sebuah sketsa, dimana kebanyakan mahasiswa di kampus gw pada mrengut manyun galau tingkat dua ribua dua belas. IP, atau kependekan dari Indeks Prestasi menjadi penyebab kegalauan itu. Tidak termasuk gw tapi, serius. Karena bagi gw, IP cuma Indeks Prestasi seperti singkatan aslinya. =="

Temen : "Hai Dik, apa kabar?"
Gw : "Kayak g pernah ketemuan aja kita"
Temen : "Udah liat IP belom?"
Gw : "Udah. Kenapa? Mau pamer? Ayook!" *nggulung lengan baju (padahal gw pake kaos)
Temen : "Tenang bro, gw cuma mau nanya aja kok...." *sambil merinding
Gw : "Hahaha... Eh, emang IP lo berapa?"

Sabtu, 29 Januari 2011

Pertanian Indonesia : Barang Mewah yang Terancam Tidak Bertuan

Sebuah statement menyatakan bahwa Indonesia akan terus menjadi negara berkembang alias tidak pernah maju jika masih menjadi negara agraris. Pernyataan tersebut seolah memicu reaksi dari berbagai kalangan. Ada yang mengiyakan dengan serta merta, ada yang menepisnya secara spontanitas, dan ada yang skeptis namun hanya acuh mendengarnya, seolah tidak inigin memikirkan ke arah mana sebenarnya negeri ini harus di bawa. Pernyataan di atas pula yang menjadi momok bagi pelajar Indonesia. Mereka sudah tidak meyakini apakah dunia pertanian masih menjanjikan kesuksesan bagi masa depan mereka. Hal ini dibuktikan dengan menurunnya jumlah peminat universitas dan fakultas pertanian dari tahun ke tahun. Menurut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Yonni Koesmaryono* penurunan terjadi pada kisaran 30-40 % dibanding tahun lalu. Soal penyebabnya, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Dr Dasron Hamid* berpendapat, antara lain, karena kondisi pertanian di Indonesia yang memprihatinkan, pelaku usaha dan universitas yang kurang berpromosi, sehingga calon mahasiswa tidak terpikat, serta nama fakultas yang kurang adaptif. Keengganan calon mahasiswa memilih jurusan pertanian terkait erat dengan kebijakan pemerintah yang tak berkiblat ke pertanian.

Kamis, 27 Januari 2011

- Sapa untuk Tanaman -


Pagi ini Bogor basah. Kulihat Yan teman sekontrakanku berdiri di beranda menghadap ke kebun kecil di depan kontrakan kami. Sambil menyapu, kuamati temanku yang satu ini. “Assalamu’alaikum tanaman” sapa dia sambil senyum sendiri, mencurigakan. Aku berdiri di sebelahnya menahan tawa. “Apa yang terjadi denganmu bray? Obat kau habis ya?”umpatku dalam hati segera ku lontarkan. “Kemarin ada dosen yang berkata pada kami di kelas. Sebuah pesan kepada kami”. 

Dosen : “Apakah kalian di kost atau kontrakan mempunyai tanaman?”

- angin lalu -

jam 9.40 wib,

 
Garry :"g telat Dik kita?"
Gw : "g lah, paling klo telat g telat-telat amat"
Garry :"dasar!" "ni tanggal berapa Dik?"
Gw :"26 April 2010, hari Senin. Knapa?"
Garry :"g nyampe sebulan lagi kita udah g bareng lagi ya? Kayaknya baru kemarin gw ketemu lo di kamar 21, ...."
Gw :(diem) *sumpah, g nyangka Garry ngomong kyk gitu, meleleh dah gw.........*


(diiringi semilir angin, kita berdua terus melangkah menuju ruang kuliah masing-maing, dengan diam tentu saja)


Kampus Dalam, Dramaga, Bogor, Indonesia
Senin, 26 April 2010

- Vitalis Blossom -

Percakapan dua insan mahasiswa, gw sebagai Dika (emang nama gw kali om...) dan Ferdi sebagai temen gw (==')

Ferdi : (seperti sedang mengendus sesuatu, bayangkan sendiri wajahnya) "Dik, lu pake Vitalis Blossom ya??"

Gw : "Kok tau lu Fer?? Iya". *stay cool, padahal deg-degan takut disangka bencong (wujud asli gw takut terbongkar)
Ferdi : "Taulah, tu kan parfum cewek gw. Bau lu kayak cewek gw, pantes aja ada bebauan yg g asing dari bolongan hidung gw."

Gw : *lari terkiprit takut tiba-tiba si Ferdi megang tangan gw, meluk badan gw, dan nyosor kemudian bilang "Ohh... My darling I Love U..." *sambil joget dibalik pohon ala pemain India

Selasa, 18 Januari 2011

- Sambal Balado : Nostalgila Kamar 21 -

Mumpung masih inget dan belum tertutup oleh kejadian-kejadian menegangkan yang lain. Kisah kali ini adalah kisah gw di kamar 21, kisah ini kisah deskriptif dan analitif, dianalisis dengan sangat kurang akurat dan subyektif tentu saja.

Masih saja terngiang suara ngaji si Budi yang lantang, suara khas ketawa Aceh si Ginonk, dan suara bisik-bisik bernada tinggi si Garry (baca : Geri) yang lagi telponan sama kekasihnya. Si Budi yang suaranya sangat lantang, tegas, tanpa ragu-ragu saat melantunkan ayat-ayat suci firman Allah Al-Quranul Karim sangat kontras dengan suara dia saat bercakap biasa, very-very pemalu so much. Si Budi adalah roommate gw yang pertama kali gw temuin. Budi dari Bogor, tepatnya dari Leuwiliang (sumpah, susah banget nyebut ni daerah, harus menyesuaikan lekukan monyongan bibir dengan lekukan lidah untuk menghasilkan bunyi yang pas dan tidak sumbang serta dengan resiko sangat tinggi, minimal lidah keseleo dan maksimal diamputasi) dan Budi merupakan cerminan dari kota Bogor, Tegar Beriman.